Kamera

Kamera

“Sedikit ke kiri..”
“Coba lagi geser ke kanan..”
Orang-orang yang berdiri didepan ku memang sangat susah diatur.
“Nah.. sudah bagus. Akan ku mulai berhitung mundur yah!”
“3”
“2”
“1”
Saat itulah aku berhasil memotret satu kenangan lagi di hari itu.

Aku jadi teringat lagi dimana awal mula aku jatuh cinta dengan barang berbentuk kotak dengan silinder yang tertempel di depannya, dilapisi lensa dan tombol-tombol yang berserakan, yaitu Kamera.

       Sudah lama aku menghidupkan hobiku dengan memotret segala macam foto mulai dari pemandangan alam, langit-langit, masyarakat, jalanan, benda-benda kecil seperti bekas rautan pesil yang terbentuk indah, lalu juga orang-orang terdekatku.

2010, seperti biasa ayahku selalu membawa kameranya kemana pun kita pergi. Ia selalu menyempatkan untuk memotret aku saat melakukan kegiatan bermain atau, saat bertingkah aneh. Dan suatu hari, kamera ayah yang tergeletak di atas meja, aku ambil dan mulai menelusuri gambar-gambar yang ada di dalamnya.

Ayahku memang pernah mengajari ku cara menyalakan dan mematikan kamera, jadi aku bisa melihat gambar-gambar di dalamnya.

Aku tertawa keras saat melihat foto-foto diriku sendiri. Ada aku yang sedang membuat wajah lucu, saat berlarian dengan kucing, kemudian balon yang sedangku coba gapai dan masih banyak lagi. Lalu ada gambar-gambar pemandangan yang indah, langit-langit yang berwarna biru cerah, biru gelap, juga langit yang terdapat awan-awan yang terbentuk seperti dinosaurus.

Namun gambar yang tidak ada adalah, ayahku sendiri.
Aku merasa sedih tidak dapat menyimpan ‘momen-momen’ bersama ayahku di dalam sebuah foto. Semenjak itulah, hatiku berkeinginan untuk bisa mempelajari cara memotret, mengatur isi fotonya, mendapatkan hasil yang bagus dan juga menyimpan sebuah kenangan hanya dalam 1 tekan tombol.

Kamera yang dulu ayah pakai sangat rumit, membuat aku kesusahan untuk menghapal tombol-tombol yang ada. Berbagai pertanyaan aku lontarkan ke ayah untuk memahami tentang kamera itu. Dan pada akhirnya, ayah memperbolehkan aku untuk dipinjamkan kamera-nya buat latihan di sekitar rumah.

Kata ayah, hal pertama yang harus aku ambil gambar adalah, aku harus mencari benda kecil, indah, karya sendiri, dan memiliki arti.

Tapi hal itu tentu tidak mudah menurutku. Saat itu aku berpikir mana ada benda kecil tapi memiliki arti. “Yang aku ingin adalah hanya benda yang indah yang bisa aku potret” gumamku terhadap ayah.

Ayahku hanya menggangguk sambil menjawab, “Boleh…”

Aku tersenyum, lalu cepat-cepat mencari benda yang aku butuhkan untuk aku potret. Dan yang pertama aku temukan yaitu, bekas serutan pensil warna-warni yang tidak lama aku tinggalkan sebelum mulai bermain dengan kamera pada hari itu.
Aku mencoba memotretnya dengan hati-hati agar fokusnya tidak goyah. Latarnya kubuat sedikit ‘ngeblur’ agar gambarnya hanya terfokus pada bekas serutan pensil warna-warni itu, dan hasilnya pun sangat membuat ku puas.

Setelah mengambil gambar, aku berlari ke ayah, membawa kamera yang ukurannya cukup besar untuk seukuran tanganku saat itu. Kuperlihatkan hasilnya, dan ayahku memberi selamat atas foto pertama yang aku potret. Tidak kebayang betapa bahagianya aku pada hari itu.

Ibu yang bersantai di ruang tamu pun aku hampiri dan perlihatkan hasilku. Ibu hanya mengatakan gambarnya sangat bagus dan ia tersenyum kepadaku.

Melihat jaman makin maju, kamera pun mulai banyak yang memiliki fitur yang lebih canggih. Tidak hanya kamera ‘DSLR’ yang ada. Tapi handphone, smartphone, tablet, iPad, dan pulpen pun sudah memiliki kamera tersendiri di masing-masing perangkat.

Kamera bukan lagi hanya bisa memotret 1 arah. Melainkan seluruh arah bisa kita simpan di dalam galeri. Apalagi sekarang ada fitur yang mengkhususkan untuk ber’selfie’, membuat orang yang memotretnya pun ikut bergaya di dalam foto itu sendiri.

Tidak kusebut juga, ruang penyimpanan-nya pun masih kurang untuk kita kumpulkan untuk momen-momen selama setahun. Hal ini karena kamera menjadi hal yang dibutuhkan untuk menyimpan sebuah kenangan.

Namun hatiku senang karena sekarang foto ayahku, ibuku dan juga orang-orang terdekat ku bisa mereka kenang dalam 1 potretan yang aku lakukan.

Foto yang mereka miliki disebarkan di sosial media untuk diperlihatkannya ke teman-temannya diluar sana.

Tetapi…

Hal yang kadang membuatku sedih adalah diriku sendiri, yang tidak ada di dalam gambar-gambar tersebut.

Comments

Post a Comment

Popular Posts